jump to navigation

Kampanye Rock Star Januari 22, 2007

Posted by kasar in opini.
2 comments

The democratic republican with the attitude of being liberally conservative … 

  

   Gatal juga ingin menulis tentang calon-calon presiden di Pemilu AS mendatang, terutama dari Partai Demokrat. Sejauh yang saya ingat, baru kali persaingan ke kursi presiden begitu seru, khususnya dari latar belakang calon-calonnya.

   Ada Hillary Clinton, perempuan nyaris sempurna yang diimpikan semua laki-laki. Lalu Barack Obama, politisi muda berkulit hitam yang pernah tinggal di Indonesia. Kemudian John Edward, tipikal politisi kulit putih.

   Hillary jelas bukan wanita biasa. Perjalanan ke kursi senator yang keras bisa dilaluinya dengan mantap. Diantara ketiga calon Demokrat, wanita ini yang paling mengerti kelemahan lawannya, Partai Republik. Dia memiliki 8 tahun pengalaman sebagai first lady di masa keprisidenan Bill Clinton. Hillary hampir tanpa cacat. Hampir? Satu-satunya kelemahannya, dia seorang wanita.   

   Hillary bisa terbentur masalah gender, sedangkan Barack Obama sudah kalah 0-1 karena warna kulit dan latar belakangnya. Reporter CNN pernah menanyai langsung ke jalan-jalan di Amrik, apakah mereka tahu nama tengah Barack Obama. Sebagian besar mengelang. Lalu si reporter menyebut “Hussein”. Setelah itu, si reporter bertanya lagi apakah mereka tetap mendukung Obama jadi presiden. Banyak raut wajah berubah ketika disebut nama “Hussein.” Pikiran mereka langsung ke mendiang Saddam Hussein, sosok diktator Irak yang menghantui warga AS. Dari namanya, Obama tadinya seorang Muslim, tapi dia kini sudah jadi anggota United Church of Christ.

   Hillary butuh waktu satu tahun untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Obama sempat berkali-kali membantah bahwa dia ngincar kursi presiden. Semuanya terjawab ketika akhir pekan lalu Obama secara resmi mencalonkan diri. Beberapa hari kemudian, Hillary juga mencalonkan diri.

   Seorang tokoh di Indonesia pernah berujar: Hillary jadi presiden, Obama wakilnya. Saya kira Partai Demokrat tidak setolol itu. Kalau terjadi, sama saja dengan memperlebar bulleye buat Republik. Bayangkan, presiden wanita dan wapres kulit hitam dengan nama tengah Hussein. Sepertinya masyarakat pemilih AS belum siap dengan dua pukulan sekaligus.

  

   Dibutuhkan lebih dari sekadar Perang Irak untuk mengubah wajah politik AS. Apalagi mayoritas warga AS setuju serangan ke Irak, hanya saja belakangan banyak yang menentang langkah-langkah strategis yang diambil Presiden Bush. Untuk masalah Irak, siapa pun yang menang dari Partai Demokrat akan melakukan langkah strategis, seperti mengurangi secara berkala pasukan AS di Irak.

   Akankah Hillary dan atau Obama ke babak final melawan wakil dari Partai Republik? Salah satu mungkin iya, tapi kalau keduanya agak berat. Hillary unggul siginifikan dibanding Obama. Hampir semua polling di media AS mengatakan begitu. Apalagi, Hillay memiliki orang-orang berpengalaman di belakangnya, termasuk orang yang sukses mengantar Bill Clinton ke kursi presiden. Kelompok yang dikenal dengan istilah “Friend of  Bill” jadi kekuatan utama Hillary.

   Sedangkan Obama, berbekal kharisma dan selalu tersenyum memang membuatnya disukai para pemilih. Para pemilihnya adalah modal penting buat kemenangan Demokrat. Tapi untuk meraih satu kursi, kemungkinan wakil presiden, cukup berat. Mungkin tapi berat. Dia akan jadi santapan empuk Partai Republik. Kepintaran dan keceriaannya belum cukup untuk meraih satu kursi.  

   Pada Desember 2006, cover story Majalah Newsweek menulis “The Race is On”. Kolumnis Jonathan Alter bertanya: “Is America Ready for Hillary or Obama?” Menurut saya belum. Tapi yang pasti, Pemilu 2008 akan lebih semarak dibanding 2004 lalu, dimana mencatat rekor jumlah pemilih terbanyak.