jump to navigation

Bill Gate’s Rules! Juni 27, 2007

Posted by kasar in kata mereka.
add a comment

Rule 1: Life is not fair – get used to it!  

Rule 2: The world won’t care about your self-esteem. The world will expect you to accomplish something BEFORE you feel good about yourself.  

Rule 3: You will NOT make $60,000 a year right out of high school. You won’t be a vice-president with a car phone until you earn both.  

Rule 4: If you think your teacher is tough, wait till you get a boss.  

Rule 5: Flipping burgers is not beneath your dignity. Your Grandparents had a different word for burger flipping: they called it opportunity.  

Rule 6: If you mess up, it’s not your parents’ fault, so don’t whine about your mistakes, learn from them.  

Rule 7: Before you were born, your parents weren’t as boring as they are now. They got that way from paying your bills, cleaning your clothes and listening to you talk about how cool you thought you were. So before you save the rain forest from the parasites of your parent’s generation, try delousing the closet in your own room.  

Rule 8: Your school may have done away with winners and losers, but life HAS NOT. In some schools, they have abolished failing grades and they’ll give you as MANY TIMES as you want to get the right answer. This doesn’t bear the slightest resemblance to ANYTHING in real life.  

Rule 9: Life is not divided into semesters. You don’t get summers off and very few employers are interested in helping you FIND YOURSELF. Do that on your own time.  

Rule 10: Television is NOT real life. In real life people actually have to leave the coffee shop and go to jobs.  

Rule 11: Be nice to nerds. Chances are you’ll end up working for one.   

Orang Nomer Satu Juni 22, 2007

Posted by kasar in hayal.
1 comment so far

      Iringan mobil sedan berhenti di depan Gedung

Kepresidenan. Sepasang sepatu mengkilap menyeruak dari

pintu mobil. Langkahnya sangat terburu-buru. Jarak antara

pintu utama dengan ruang depan terasa jauh sekali. Andre

seolah-olah merasa berlari puluhan kilometer untuk mencapai

pintu bergaya gothic itu. Di langkah terakhir, sebelumnya

tangannya mencapai grendel, bayangan di sebelah pintu

menghentikannya.  

      “Maaf, Bapak sedang melakukan pembicaraan internasional,” ujar si empunya suara. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar dibalut safari lengan pendek hampir menutup satu sisi daun pintu. Tubuh Andre terhenti mendadak, kemeja batiknya bergoyang lirih.

      Andre mengatur nafas. Keliatan tenang dari luar, tapi jantungnya tetap berdetak kencang. Sebagai juru bicara kepresidenan dia harusnya bisa leluasa bertemu orang nomer satu. Tapi terkadang aturan protokoler mengharuskan lain. Tapi sebenarnya semua tergantung mood si “Bapak”.

      Andre masih ingat permbicaraan di mobil tadi. Bikin tubuhnya sentak tak nyaman. Gerah di tengah udara di dalam sedan mewah yang dingin.

      “Bapak harus tahu malam ini juga, sebelum beritanya muncul di koran besok pagi. Kamu harus kasi tahu Bapak,” ujar Ahmad, Sekretaris Kepresidenan. Sial. Giliran yang pahit dan tak enak, gue yang dirusuh. Kalau berita bagus, dia yang langsung telepon.  Yang menambah kesal, orang ini selalu memanggil dirinya dengan kamu. Yang artinya lebih merendahkan daripada bernada keakraban. 

      Andre memutar lengannya. Hampir pukul 24, batas terakhir Presiden boleh membicarakan urusan kantor. Kalau tidak urgent, dia sudah ongkang-ongkang kaki di ruangan kerjanya menunggu panggilan. Tadi katanya bisa langsung bertemu, sungutnya dalam hati. Kesal. Ah, tapi dia tidak bisa menyalahkan kepala urusan rumah tanggal kepresidanan.

      Pintu terbuka setengah. “Silahkan, Pak,” ujar staf protokoler yang cukup ramah. Dia meminta Andre mengikutinya. Andre mengambil posisi duduk yang ditunjuk staf tadi. Jaraknya sekitar  5 meter dari meja besar di tengah ruangan. Dia sibuk mengatur duduk senyaman mungkin. Detik berikutnya pintu samping yang lebih besar bergerak.

      Presiden berjalan menelusuri dua buah kursi besar, lalu meraih bibir meja. Dia menghentakkan tubuhnya yang besar ke dalam selongsong kursi paling lebar di ruangan itu. Wajahnya agak suram, tapi warna piyama yang cerah berhasil menutupi kesuramanya.

      “Ada yang harus Bapak Presiden ketahui….,” suara Andre memecahkan beberapa detik keheningan.

      “Soal interpelasi, saya sudah tahu itu,” suaranya berkali-kali lipat lebih bertenaga dibanding lawan bicaranya. “Anak-anak itu maunya apa. Persoalan ini kok keluar dari substansinya. Yang perlu didiskusikan bagaimana resolusi PBB keluar, bukan persoalan saya datang atau tidak, ” ujar Presiden serius.

       Andre masih ingat ketika pertama kali orang nomer satu di negeri ini menyebut para anggota dewan sebagai “anak-anak”. Dia selalu berdoa ucapan itu tidak terlalu sering keluar dari mulut bosnya. Bukan apa-apa, kalau ada pernyataan kontroversial, dia juga yang sibuk meyakinkan banyak pihak. Untungnya cuma dalam pembicaraan dengan beberapa orang di sekitar istana, termasuk dirinya.

      “Mereka mulai gusar, Pak” kata Andre. Dia sangat hati-hati memilih kata.

      “Marah maksud kamu? Saya sudah lupa kapan terakhir kali anak-anak itu tidak gampang marah. Semakin dekat pemilu, semakin sering mereka marah. Waktu yang mereka punya semakin sedikit,” potong Presiden.

      “Maksud Bapak?”

      “Beberapa dari mereka akan berubah hidupnya setelah pemilu,” jawab Presiden pendek. Andre masih tidak puas dengan jawaban itu, tapi tak pernah terpikirkan untuk bertanya lebih jauh.

      “Apakah saya perlu menghubungi beberapa koran malam ini, Pak, sebelum turun cetak,” tanyanya.  Menanti jawaban dari pertanyaan itu membuat duduknya tidak selesa. Gusar. Yang membuatnya lebih kuatir, untuk beberapa kasus, urusan seperti ini tidak perlu ditanyakan langsung. Cukup berinisiatif. Gunakan daya pikirmu.

      Presiden berdiri. “Untuk apa? Biarkan saja mereka memuat ucapan anak-anak tadi siang. Kalau setiap ada kasus seperti harus menelepon koran,  ditertawakan kita nanti. Saya juga ingin tahu sekeras apa ucapan mereka.”

      Sampai detik itu Andre merasa tugasnya sudah selesai. Tidak ada beban yang dibawanya pulang. Dia mengatur posisi tubuh untuk permisi. Tapi Presiden justru berjalan mendekatinya.

      Dulu mereka pernah sangat dekat. Seakrab dua mahasiswa perantauan. Di tengah keakraban itu pula terbersit tawaran untuk jadi juru bicara kalau dia menang Pemilu. Peluangnya memang lebih besar, meski mereka sama-sama diajukan partai berbeda untuk jadi orang nomer satu.

      Andre menerima tawaran itu. Dia meliatnya sebagai petualangan, bukan peluang mencari uang. Kapan lagi bisa meliat langsung cara kerja pengambilan keputusan di istana. Bukan cuma meliat dan merasakan, tapi dia juga dilibatkan. Pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lagi pula, profesi pengajar masih bisa diteruskannya ketika tua nanti.

      Dulu mereka saling memanggil nama, dan sering menanyakan kabar keluarga masing-masing. Semua berubah ketika angka-angka polling memihak namanya. Banyak yang ingin mendekat, lebih banyak lagi yang meminta waktu untuk bertemu. Pengusaha, birokrat, para profesional, tokoh masyarakat, LSM, sampai penyanyi dangdut meminta bertemu seperti kawan lama yang sudah puluhan tahun tak bersua.

      Lama kelamaan mereka semakin berjarak. Andre lupa persisnya kapan, yang pasti dia sudah jadi anak buah dan cuma staf di Istana Kepresidenan. Sangat sulit mencari waktu untuk bicara dari hati ke hati. Jarang ada berbicara di luar jadual protokoler.

      Presiden duduk persis di depannya. “Saya ingin kamu mengatur sesuatu malam ini. Masalah kecil, tapi sebaiknya tidak banyak yang tahu. Soal Bagus. Tadi dia nelpon ibunya. Dia mulai merasa bosan di sana.” ujar Presiden. Statusnya sulit dibedakan ketika itu. Apakah seorang kepala negara, bapak yang peduli dengan anaknya, atau seorang suami yang takut istri.

      Bagus, putra kedua Presiden, sedang berada di luar negeri. Dia salah satu prajurit yang diutus ke daerah konflik berada di bawah bendera PBB. Sejak awal Andre merasa kurang sreg dengan keikutasertaan Bagus. Sangat berbau politis, tidak tepat ditunjukkan di masa awal kepemimpinan Presiden.

      “Apakah Bagus ingin pulang, Pak,” tanya Andre.

      “Bukan, dia ingin pergi ke suatu tempat untuk relaksasi….” ujar Presiden yang dipotong oleh suara lain.

      “Paris. Dia ingin ke Paris selama seminggu,” suara lembut tapi bernada perintah itu keluar dari balik pintu. Tubuh Ibu Negara yang gemuk tapi masih keliatan sisa-sisa keindahannya keluar dari pintu samping. Andre berdiri memberi hormat. Ibu Negara terus berjalan menuju meja Presiden.

      “Baik, Bu. Saya akan bicara dengan pimpinan pasukan kita di sana.”

      “Tidak boleh ada yang tau, tidak juga pimpinan di sana. Orang di sini taunya Bagus tetap bertugas. Kamu siapakan satu orang prajurit menggantikan dia selama tidak di tempat, ” ujar Ibu Negara. Wajahnya sangat serius. Dia tidak main-main dengan masalah ini. Andre bisa membayangkan percakapan Bagus dan Ibu Negara, antara ibu dan anak, di telpon tadi.

      Tiba-tiba kepala Andre pusing. Terlalu banyak nama yang berseliweran di kepalanya. Nama-nama yang harus ditelpon untuk memuluskan rencana ini. Jendral A, staf departemen luar negeri, petugas di bandara, si anu, si anu….

      “Satu lagi, ini jadi sampai keluar. Termasuk istrinya tidak boleh tau. Selama di Paris dia tidak mau diganggu.” ujar wanita yang kalau di tivi ucapannya sangat lembut.

      Tidak lama, Ibu Negara menghilang dibalik pintu. Dia pergi meninggalkan berbagai pertanyaan yang berserakan di ruangan itu. Presiden cuma diam. Beberapa detik kemudian dia juga berdiri. Sebelum melangakah, dia sempat memegang pundak Andre.

      “Saya akan membantu menelpon beberapa orang malam ini. Tapi semuanya harus beres besok, ” kata Presiden sambil meninggalkkannya.

      Dengan cepat Andre merapikan tasnya. Tergopoh-gopoh menuju pintu yang langsung terbuka ditarik seorang staf protokoler. Dia melangkah sangat cepat menuju depan gerbang istana. Mobil sedan menunggu. Dia kembali merasa gerah di dalam mobil yang ber-AC sangat dingin itu.

 Jakarta, 22 Juni 2007   

Refleksi:

      Di luar profesi dan jabatan sehari-hari, kita cuma manusia biasa. Presiden adalah  seorang bapak dan suami. Ibu Negara adalah ibu yang sayangnya sangat berlebihan kepada anaknya.   

 

     

   

     

Ladang Kami Didatangi Tentara Juni 6, 2007

Posted by kasar in hayal.
2 comments

      Totot sedang membersihkan cangkulnya ketika  mendengar suara motor lewat di depan gubuknya. Motor itu berhenti dua rumah dari tempat dia jongkok. Si pengendara turun dengan sangat terburu-buru. Hampir terpeleset. Motor bebek tua itu pun terparkir seadanya di tengah jalan.

      “Pak… Pak… ladang kita didatangi tentara,” teriak si pengendara. Kalimat itu diikuti jawaban dari dalam rumah. Totot tidak mendengar obrolan di dalam.

      Jantung Totot berdegup kencang. Ini ketiga kalinya dia mendengar kabar tentara mendatangi ladang mereka. Kabar pertama cuma isapan jempol, kabar kedua dia meliat truk tentara lewat di jalanan kampung, tapi dia enggak yakin ada tentara di dalamnya. Ini yang ketiga.

      Totot tidak ingat kapan ladang dan kampung mulai akrab dengan isu tentara. Mungkin mulai enam bulan lalu, saat pergantian lurah. Mungkin jauh sebelum itu. Yang jelas, penduduk kampung mulai resah beberapa hari terkahir. Mereka sering ngobrol sampai larut malam. Anak-anak muda bikin tema obrolan sendiri tentang isu tentara.

      Tentara ingin mengambil tanah mereka. Begitu isu yang beredar.  Apa iya kampung dan ladang ini milik tentara? Tak habis-habisnya Totot bertanya pada dirinnya sendiri ketika pertama kali mendengar kabar itu. Dia lahir dan besar di sini, tapi tak pernah tau cerita itu. Dia yakin almarhum bapaknya juga tidak tau. Tapi beberapa warga sempat bilang tanah ini memang sudah dibeli tentara sejak 50 tahun lalu. Entah mana yang benar.

      “Pak… mau ke ladang jam berapa, mbo jangan siang-siang, lho,” tanya Ijah, istrinya, dengan logat lokal yang kental. Totot malas menjawab, tapi perlahan-lahan bangkit dari jongkoknya. Dia menenteng cakulnya. Ijah yang hamil empat bulan tersenyum kecil.

      Belum genap dua langkah dilewati Totot, istrinya juga belum penuh menutup pintu, suara gaduh terdengar dari ujung jalan. Makin kencang. “Ayo kita hadang mereka, pertahankan kampung kita,” teriak seseorang. “Ayo, ini saatnya kita beraksi! Kita tak boleh diam.” Teriakan semakin dekat, semakin gaduh.

      Puluhan orang udah menyesaki jalan kampung yang kecil. Orang tua, pria dan wanita, beberapa anak berlarian dan ikut-ikutan berteriak. Kebanyakan mengacungkan kayu atau bambu. Beberapa laki-laki menyelipkan celurit atau pisau di  bagian belakang pingggang mereka. Persis di depan rumah yang tadi ada motor tua terparkir, yang pengendaranya terburu-buru, orang-orang itu berhenti.

      “Pak RT, Pak, kali ini kami tidak tinggal diam. Kita harus menghadang mereka,” ujar seseorang. Tidak jelas siapa yang berteriak. Tapi suaranya berhasil membuat tergopoh-gopoh orang tua muncul dari balik pintu. Pak RT Tugiman. Di belakangnya mengekor beberapa orang, salah satunya si pengendara motor.

       Belum sempat Pak RT berucap sepatah kata pun, seseorang memberi komando untuk bergerak. Seperti tidak ada hari esok, puluhan orang merangsek ke arah jalan besar, penghubung kampung dengan ladang.

      Totot melangkah ketika yang tersisa anak-anak kecil berlarian mengejar rombongan. “Ndak usah ke ladang hari ini Pak, saya kuatir. Sepertinya tentara memang datang,” ujar istrinya.

      Totot tidak menoleh. “Kemarin-kemarin juga bilang begitu, buktinya ndak ada apa-apa. Ibu tenang aja, tentara ndak mungkin datang. Orang-orang cuma cari alasan aja biar ndak pergi ke ladang. Udah, bapak pergi.”  

      Totot melewati jalan yang sama dengan orang-orang tadi. Jejak kaki di tanah becek tumpang tindih. Alangkah kagetnya dia meliat orang-orang itu ternyata berhenti persis di pinggir ladangnya. Totot mengalihkan padangannya ke arah lain, ke sebuah undukan tempat orang-orang itu bisanya berkumpul. Tidak jauh dari tempat itu terparkir sepasang traktor. Dari jauh keliatan seperti monster yang sangat lapar. Sesekali tampak satu dua tentara yang berjag-jaga di sekitar traktor itu.  

      Setelah berpikir sebentar, Totot memutuskan untuk pulang. Tapi dia pengen memastikan kelompok massa tidak menginjak-injak tanamannya. Dia melangkah mendekat, tapi orang-orang kelompok itu bergerak menjauh. Lalu mendekat lagi. Suara teriakan mulai terdengar. Lebih kencang. Dari kejauhan, traktor yang dikawal tentara juga bergerak.  

      “Tentara bajinngan. Pergi dari sini, kalau tidak, kami melawan!” satu teriakan paling nyaring. Suara gaduh semakin parah. Makian berbuntut makian. Totot semakin mendekati kelompok massa, bahkan hampir bergabung. Panggilan yang menyerupai teriakan dari bagian belakang tidak bisa didengarnya. Panggilan perempuan yang tergopoh-gopoh sambil berlari kecil mengangkat sarungnya bercampur makian dan teriakan orang-orang.

      Entah siapa yang mulai, batu-batu melayang batu ke arah traktor. Semakin banyak. Seorang warga yang dari tadi memang sudah seperti cacing kepanasan muncul dari kerumuan. Kausnya yang udah sobek dilepas. Tangannya dengan cepat menarik celurit dari celana belakang dan mengacungkan-acungkannya.  

      Laki-laki kurus itu berlari ke arah traktor yang jaraknya kurang dari 50 meter. Setengah lusin tentara muncul dari balik traktor. Ujung senjata mulai turun. Diarahkan ke orang yang berlari, sekaligus memberi peringatan ke kelompok massa untuk mundur.  Tapi laki-laki itu tidak tau isyarat. Berlari terus, semakin beringas.

      Dor… dor… Suara tembakan dimuntahkan. Lebih dari selusin tembakan. Laki-laki itu terpental, terkapar. Kelompok massa berlari berhamburan seperti beras tumpah dari tempayan. Beberapa tentara mengejar orang-oarng yang diincar. Totot mundur beberapa langkah, lalu terjatuh. Kakinya tersandung sesuatu. Tubuh wanita, setengah badannya tertutup tanah. Totot mengenali sosok itu, baju itu, rambut itu. Dia membalik tubuh wanita itu dengan gemetar.

      Gusti Tuhan, dia istriku.

      “Pakkk, aku…. diinjak-injak,”  gemetar suara Ijah. “Aku menyusul mengantarkan ini.” Ijah menunjuk topi petani. Dia sempat ingin membatalkan memberi topi itu ketika meliat kelompok massa dan tentara. Tapi ketika meliat suami mendekati kelompok massa, dia berteriak melarang.

      Masih gemetar, Totot menenangkan. Ketika dia meraba bagian perut istrinya, ada yang dingin. Darah. Sekeras apa injakan mereka? Oh, tidak. Dia kena tembak, di perut. Anakku.

      Totot terpatung di dekat tubuh istrinya yang masih hangat, tapi sudah tak bergerak. Dia menangis tanpa air mata, berteriak tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Semua berubah sunyi. Pagi mulai gelap di matanya.

Jakarta, 6 Juni 2007

(Terinspirasi dari tragedi bentrokan antara petani dan tentara (marinir) di  Alas Tlogo, Grati, Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, 30 Mei 2007. Empat orang tewas, 13 marinir didakwa).