jump to navigation

Ladang Kami Didatangi Tentara Juni 6, 2007

Posted by kasar in hayal.
trackback

      Totot sedang membersihkan cangkulnya ketika  mendengar suara motor lewat di depan gubuknya. Motor itu berhenti dua rumah dari tempat dia jongkok. Si pengendara turun dengan sangat terburu-buru. Hampir terpeleset. Motor bebek tua itu pun terparkir seadanya di tengah jalan.

      “Pak… Pak… ladang kita didatangi tentara,” teriak si pengendara. Kalimat itu diikuti jawaban dari dalam rumah. Totot tidak mendengar obrolan di dalam.

      Jantung Totot berdegup kencang. Ini ketiga kalinya dia mendengar kabar tentara mendatangi ladang mereka. Kabar pertama cuma isapan jempol, kabar kedua dia meliat truk tentara lewat di jalanan kampung, tapi dia enggak yakin ada tentara di dalamnya. Ini yang ketiga.

      Totot tidak ingat kapan ladang dan kampung mulai akrab dengan isu tentara. Mungkin mulai enam bulan lalu, saat pergantian lurah. Mungkin jauh sebelum itu. Yang jelas, penduduk kampung mulai resah beberapa hari terkahir. Mereka sering ngobrol sampai larut malam. Anak-anak muda bikin tema obrolan sendiri tentang isu tentara.

      Tentara ingin mengambil tanah mereka. Begitu isu yang beredar.  Apa iya kampung dan ladang ini milik tentara? Tak habis-habisnya Totot bertanya pada dirinnya sendiri ketika pertama kali mendengar kabar itu. Dia lahir dan besar di sini, tapi tak pernah tau cerita itu. Dia yakin almarhum bapaknya juga tidak tau. Tapi beberapa warga sempat bilang tanah ini memang sudah dibeli tentara sejak 50 tahun lalu. Entah mana yang benar.

      “Pak… mau ke ladang jam berapa, mbo jangan siang-siang, lho,” tanya Ijah, istrinya, dengan logat lokal yang kental. Totot malas menjawab, tapi perlahan-lahan bangkit dari jongkoknya. Dia menenteng cakulnya. Ijah yang hamil empat bulan tersenyum kecil.

      Belum genap dua langkah dilewati Totot, istrinya juga belum penuh menutup pintu, suara gaduh terdengar dari ujung jalan. Makin kencang. “Ayo kita hadang mereka, pertahankan kampung kita,” teriak seseorang. “Ayo, ini saatnya kita beraksi! Kita tak boleh diam.” Teriakan semakin dekat, semakin gaduh.

      Puluhan orang udah menyesaki jalan kampung yang kecil. Orang tua, pria dan wanita, beberapa anak berlarian dan ikut-ikutan berteriak. Kebanyakan mengacungkan kayu atau bambu. Beberapa laki-laki menyelipkan celurit atau pisau di  bagian belakang pingggang mereka. Persis di depan rumah yang tadi ada motor tua terparkir, yang pengendaranya terburu-buru, orang-orang itu berhenti.

      “Pak RT, Pak, kali ini kami tidak tinggal diam. Kita harus menghadang mereka,” ujar seseorang. Tidak jelas siapa yang berteriak. Tapi suaranya berhasil membuat tergopoh-gopoh orang tua muncul dari balik pintu. Pak RT Tugiman. Di belakangnya mengekor beberapa orang, salah satunya si pengendara motor.

       Belum sempat Pak RT berucap sepatah kata pun, seseorang memberi komando untuk bergerak. Seperti tidak ada hari esok, puluhan orang merangsek ke arah jalan besar, penghubung kampung dengan ladang.

      Totot melangkah ketika yang tersisa anak-anak kecil berlarian mengejar rombongan. “Ndak usah ke ladang hari ini Pak, saya kuatir. Sepertinya tentara memang datang,” ujar istrinya.

      Totot tidak menoleh. “Kemarin-kemarin juga bilang begitu, buktinya ndak ada apa-apa. Ibu tenang aja, tentara ndak mungkin datang. Orang-orang cuma cari alasan aja biar ndak pergi ke ladang. Udah, bapak pergi.”  

      Totot melewati jalan yang sama dengan orang-orang tadi. Jejak kaki di tanah becek tumpang tindih. Alangkah kagetnya dia meliat orang-orang itu ternyata berhenti persis di pinggir ladangnya. Totot mengalihkan padangannya ke arah lain, ke sebuah undukan tempat orang-orang itu bisanya berkumpul. Tidak jauh dari tempat itu terparkir sepasang traktor. Dari jauh keliatan seperti monster yang sangat lapar. Sesekali tampak satu dua tentara yang berjag-jaga di sekitar traktor itu.  

      Setelah berpikir sebentar, Totot memutuskan untuk pulang. Tapi dia pengen memastikan kelompok massa tidak menginjak-injak tanamannya. Dia melangkah mendekat, tapi orang-orang kelompok itu bergerak menjauh. Lalu mendekat lagi. Suara teriakan mulai terdengar. Lebih kencang. Dari kejauhan, traktor yang dikawal tentara juga bergerak.  

      “Tentara bajinngan. Pergi dari sini, kalau tidak, kami melawan!” satu teriakan paling nyaring. Suara gaduh semakin parah. Makian berbuntut makian. Totot semakin mendekati kelompok massa, bahkan hampir bergabung. Panggilan yang menyerupai teriakan dari bagian belakang tidak bisa didengarnya. Panggilan perempuan yang tergopoh-gopoh sambil berlari kecil mengangkat sarungnya bercampur makian dan teriakan orang-orang.

      Entah siapa yang mulai, batu-batu melayang batu ke arah traktor. Semakin banyak. Seorang warga yang dari tadi memang sudah seperti cacing kepanasan muncul dari kerumuan. Kausnya yang udah sobek dilepas. Tangannya dengan cepat menarik celurit dari celana belakang dan mengacungkan-acungkannya.  

      Laki-laki kurus itu berlari ke arah traktor yang jaraknya kurang dari 50 meter. Setengah lusin tentara muncul dari balik traktor. Ujung senjata mulai turun. Diarahkan ke orang yang berlari, sekaligus memberi peringatan ke kelompok massa untuk mundur.  Tapi laki-laki itu tidak tau isyarat. Berlari terus, semakin beringas.

      Dor… dor… Suara tembakan dimuntahkan. Lebih dari selusin tembakan. Laki-laki itu terpental, terkapar. Kelompok massa berlari berhamburan seperti beras tumpah dari tempayan. Beberapa tentara mengejar orang-oarng yang diincar. Totot mundur beberapa langkah, lalu terjatuh. Kakinya tersandung sesuatu. Tubuh wanita, setengah badannya tertutup tanah. Totot mengenali sosok itu, baju itu, rambut itu. Dia membalik tubuh wanita itu dengan gemetar.

      Gusti Tuhan, dia istriku.

      “Pakkk, aku…. diinjak-injak,”  gemetar suara Ijah. “Aku menyusul mengantarkan ini.” Ijah menunjuk topi petani. Dia sempat ingin membatalkan memberi topi itu ketika meliat kelompok massa dan tentara. Tapi ketika meliat suami mendekati kelompok massa, dia berteriak melarang.

      Masih gemetar, Totot menenangkan. Ketika dia meraba bagian perut istrinya, ada yang dingin. Darah. Sekeras apa injakan mereka? Oh, tidak. Dia kena tembak, di perut. Anakku.

      Totot terpatung di dekat tubuh istrinya yang masih hangat, tapi sudah tak bergerak. Dia menangis tanpa air mata, berteriak tanpa suara yang keluar dari mulutnya. Semua berubah sunyi. Pagi mulai gelap di matanya.

Jakarta, 6 Juni 2007

(Terinspirasi dari tragedi bentrokan antara petani dan tentara (marinir) di  Alas Tlogo, Grati, Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, 30 Mei 2007. Empat orang tewas, 13 marinir didakwa).

     

     

     

     

Komentar»

1. kasar - Juni 13, 2007

ha ha he he

2. philips vermonte - Juni 13, 2007

nah, ini dia wordpress nya…mainkan terus bung…

pjv