jump to navigation

Orang Nomer Satu Juni 22, 2007

Posted by kasar in hayal.
1 comment so far

      Iringan mobil sedan berhenti di depan Gedung

Kepresidenan. Sepasang sepatu mengkilap menyeruak dari

pintu mobil. Langkahnya sangat terburu-buru. Jarak antara

pintu utama dengan ruang depan terasa jauh sekali. Andre

seolah-olah merasa berlari puluhan kilometer untuk mencapai

pintu bergaya gothic itu. Di langkah terakhir, sebelumnya

tangannya mencapai grendel, bayangan di sebelah pintu

menghentikannya.  

      “Maaf, Bapak sedang melakukan pembicaraan internasional,” ujar si empunya suara. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar dibalut safari lengan pendek hampir menutup satu sisi daun pintu. Tubuh Andre terhenti mendadak, kemeja batiknya bergoyang lirih.

      Andre mengatur nafas. Keliatan tenang dari luar, tapi jantungnya tetap berdetak kencang. Sebagai juru bicara kepresidenan dia harusnya bisa leluasa bertemu orang nomer satu. Tapi terkadang aturan protokoler mengharuskan lain. Tapi sebenarnya semua tergantung mood si “Bapak”.

      Andre masih ingat permbicaraan di mobil tadi. Bikin tubuhnya sentak tak nyaman. Gerah di tengah udara di dalam sedan mewah yang dingin.

      “Bapak harus tahu malam ini juga, sebelum beritanya muncul di koran besok pagi. Kamu harus kasi tahu Bapak,” ujar Ahmad, Sekretaris Kepresidenan. Sial. Giliran yang pahit dan tak enak, gue yang dirusuh. Kalau berita bagus, dia yang langsung telepon.  Yang menambah kesal, orang ini selalu memanggil dirinya dengan kamu. Yang artinya lebih merendahkan daripada bernada keakraban. 

      Andre memutar lengannya. Hampir pukul 24, batas terakhir Presiden boleh membicarakan urusan kantor. Kalau tidak urgent, dia sudah ongkang-ongkang kaki di ruangan kerjanya menunggu panggilan. Tadi katanya bisa langsung bertemu, sungutnya dalam hati. Kesal. Ah, tapi dia tidak bisa menyalahkan kepala urusan rumah tanggal kepresidanan.

      Pintu terbuka setengah. “Silahkan, Pak,” ujar staf protokoler yang cukup ramah. Dia meminta Andre mengikutinya. Andre mengambil posisi duduk yang ditunjuk staf tadi. Jaraknya sekitar  5 meter dari meja besar di tengah ruangan. Dia sibuk mengatur duduk senyaman mungkin. Detik berikutnya pintu samping yang lebih besar bergerak.

      Presiden berjalan menelusuri dua buah kursi besar, lalu meraih bibir meja. Dia menghentakkan tubuhnya yang besar ke dalam selongsong kursi paling lebar di ruangan itu. Wajahnya agak suram, tapi warna piyama yang cerah berhasil menutupi kesuramanya.

      “Ada yang harus Bapak Presiden ketahui….,” suara Andre memecahkan beberapa detik keheningan.

      “Soal interpelasi, saya sudah tahu itu,” suaranya berkali-kali lipat lebih bertenaga dibanding lawan bicaranya. “Anak-anak itu maunya apa. Persoalan ini kok keluar dari substansinya. Yang perlu didiskusikan bagaimana resolusi PBB keluar, bukan persoalan saya datang atau tidak, ” ujar Presiden serius.

       Andre masih ingat ketika pertama kali orang nomer satu di negeri ini menyebut para anggota dewan sebagai “anak-anak”. Dia selalu berdoa ucapan itu tidak terlalu sering keluar dari mulut bosnya. Bukan apa-apa, kalau ada pernyataan kontroversial, dia juga yang sibuk meyakinkan banyak pihak. Untungnya cuma dalam pembicaraan dengan beberapa orang di sekitar istana, termasuk dirinya.

      “Mereka mulai gusar, Pak” kata Andre. Dia sangat hati-hati memilih kata.

      “Marah maksud kamu? Saya sudah lupa kapan terakhir kali anak-anak itu tidak gampang marah. Semakin dekat pemilu, semakin sering mereka marah. Waktu yang mereka punya semakin sedikit,” potong Presiden.

      “Maksud Bapak?”

      “Beberapa dari mereka akan berubah hidupnya setelah pemilu,” jawab Presiden pendek. Andre masih tidak puas dengan jawaban itu, tapi tak pernah terpikirkan untuk bertanya lebih jauh.

      “Apakah saya perlu menghubungi beberapa koran malam ini, Pak, sebelum turun cetak,” tanyanya.  Menanti jawaban dari pertanyaan itu membuat duduknya tidak selesa. Gusar. Yang membuatnya lebih kuatir, untuk beberapa kasus, urusan seperti ini tidak perlu ditanyakan langsung. Cukup berinisiatif. Gunakan daya pikirmu.

      Presiden berdiri. “Untuk apa? Biarkan saja mereka memuat ucapan anak-anak tadi siang. Kalau setiap ada kasus seperti harus menelepon koran,  ditertawakan kita nanti. Saya juga ingin tahu sekeras apa ucapan mereka.”

      Sampai detik itu Andre merasa tugasnya sudah selesai. Tidak ada beban yang dibawanya pulang. Dia mengatur posisi tubuh untuk permisi. Tapi Presiden justru berjalan mendekatinya.

      Dulu mereka pernah sangat dekat. Seakrab dua mahasiswa perantauan. Di tengah keakraban itu pula terbersit tawaran untuk jadi juru bicara kalau dia menang Pemilu. Peluangnya memang lebih besar, meski mereka sama-sama diajukan partai berbeda untuk jadi orang nomer satu.

      Andre menerima tawaran itu. Dia meliatnya sebagai petualangan, bukan peluang mencari uang. Kapan lagi bisa meliat langsung cara kerja pengambilan keputusan di istana. Bukan cuma meliat dan merasakan, tapi dia juga dilibatkan. Pekerjaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lagi pula, profesi pengajar masih bisa diteruskannya ketika tua nanti.

      Dulu mereka saling memanggil nama, dan sering menanyakan kabar keluarga masing-masing. Semua berubah ketika angka-angka polling memihak namanya. Banyak yang ingin mendekat, lebih banyak lagi yang meminta waktu untuk bertemu. Pengusaha, birokrat, para profesional, tokoh masyarakat, LSM, sampai penyanyi dangdut meminta bertemu seperti kawan lama yang sudah puluhan tahun tak bersua.

      Lama kelamaan mereka semakin berjarak. Andre lupa persisnya kapan, yang pasti dia sudah jadi anak buah dan cuma staf di Istana Kepresidenan. Sangat sulit mencari waktu untuk bicara dari hati ke hati. Jarang ada berbicara di luar jadual protokoler.

      Presiden duduk persis di depannya. “Saya ingin kamu mengatur sesuatu malam ini. Masalah kecil, tapi sebaiknya tidak banyak yang tahu. Soal Bagus. Tadi dia nelpon ibunya. Dia mulai merasa bosan di sana.” ujar Presiden. Statusnya sulit dibedakan ketika itu. Apakah seorang kepala negara, bapak yang peduli dengan anaknya, atau seorang suami yang takut istri.

      Bagus, putra kedua Presiden, sedang berada di luar negeri. Dia salah satu prajurit yang diutus ke daerah konflik berada di bawah bendera PBB. Sejak awal Andre merasa kurang sreg dengan keikutasertaan Bagus. Sangat berbau politis, tidak tepat ditunjukkan di masa awal kepemimpinan Presiden.

      “Apakah Bagus ingin pulang, Pak,” tanya Andre.

      “Bukan, dia ingin pergi ke suatu tempat untuk relaksasi….” ujar Presiden yang dipotong oleh suara lain.

      “Paris. Dia ingin ke Paris selama seminggu,” suara lembut tapi bernada perintah itu keluar dari balik pintu. Tubuh Ibu Negara yang gemuk tapi masih keliatan sisa-sisa keindahannya keluar dari pintu samping. Andre berdiri memberi hormat. Ibu Negara terus berjalan menuju meja Presiden.

      “Baik, Bu. Saya akan bicara dengan pimpinan pasukan kita di sana.”

      “Tidak boleh ada yang tau, tidak juga pimpinan di sana. Orang di sini taunya Bagus tetap bertugas. Kamu siapakan satu orang prajurit menggantikan dia selama tidak di tempat, ” ujar Ibu Negara. Wajahnya sangat serius. Dia tidak main-main dengan masalah ini. Andre bisa membayangkan percakapan Bagus dan Ibu Negara, antara ibu dan anak, di telpon tadi.

      Tiba-tiba kepala Andre pusing. Terlalu banyak nama yang berseliweran di kepalanya. Nama-nama yang harus ditelpon untuk memuluskan rencana ini. Jendral A, staf departemen luar negeri, petugas di bandara, si anu, si anu….

      “Satu lagi, ini jadi sampai keluar. Termasuk istrinya tidak boleh tau. Selama di Paris dia tidak mau diganggu.” ujar wanita yang kalau di tivi ucapannya sangat lembut.

      Tidak lama, Ibu Negara menghilang dibalik pintu. Dia pergi meninggalkan berbagai pertanyaan yang berserakan di ruangan itu. Presiden cuma diam. Beberapa detik kemudian dia juga berdiri. Sebelum melangakah, dia sempat memegang pundak Andre.

      “Saya akan membantu menelpon beberapa orang malam ini. Tapi semuanya harus beres besok, ” kata Presiden sambil meninggalkkannya.

      Dengan cepat Andre merapikan tasnya. Tergopoh-gopoh menuju pintu yang langsung terbuka ditarik seorang staf protokoler. Dia melangkah sangat cepat menuju depan gerbang istana. Mobil sedan menunggu. Dia kembali merasa gerah di dalam mobil yang ber-AC sangat dingin itu.

 Jakarta, 22 Juni 2007   

Refleksi:

      Di luar profesi dan jabatan sehari-hari, kita cuma manusia biasa. Presiden adalah  seorang bapak dan suami. Ibu Negara adalah ibu yang sayangnya sangat berlebihan kepada anaknya.