jump to navigation

Kasper, Milik Inggris atau Denmark Agustus 28, 2007

Posted by kasar in opini.
add a comment

Like father, like son.

Tidak cuma Italia yang punya Keluarga Maldini. Denmark juga punya Keluarga Schmeichel. Siapa tak kenal Peter Schmeichel, kiper legendaris Manchester

 

United dan Denmark. Saking hebatnya, dia dijuluki The Great Dane. Dia menutup karirnya di Liga Inggris.Peter yang hebat ini ternyata melahirkan seorang Kasper yang sepertinya bakal jadi kiper hebat kayak bokapnya.

Begitu Liga Inggris digelar, sosok yang mencuri perhatian bukan Fernando Torres, pemain termahal sepanjang masa Liverpool. Bukan Carlos Tevez yang transfernya dari West Ham ke MU berjalan sangat alot dan membingungkan. Tapi Kasper Schmeichel, kiper Manchester City. Penonton, termasuk saya seolah meliat Peter Schmeichel muda.

Rambut pirang, muka khas Skandinavia, dan reflek yang sangat cepat. Dia mencuri perhatian karena tidak kebobolan (clean sheet) dalam tiga pertandingan. Di pertandingan keempat, bertamu ke Arsenal, Kasper sempat menyelamatkan tendangan penalti. Tapi sayang, dia kebobolan juga lewat tendangan keras dari sisi kiri gawangnya oleh gelandang Arsenal, Cesc Fabregas.

Kehebohan tidak cuma di situ. Lagi-lagi sepak bola punya sisi yang unik. Kasper datang di saat Inggris krisis kiper. Kiper Inggris cuma membela tim medioker kayak Tottenham atau Portsmouth. Kasper pun diminta jadi warga Inggris karena dia tinggal 16 tahun di negeri itu. Secara hukum sih boleh, tapi rekasi Kasper gimana. Jawabannya bisa ditebak. Kasper orang Denmark, bukan orang Inggris. Dia menolak mentah-mentah jadi orang nomer satu di bawah gawang timna Inggris. (lagi…)

Juventus dan Italia Agustus 28, 2007

Posted by kasar in opini.
add a comment

Liga Italia tidak pernah lengkap tanpa Juventus. Bersama Inter Milan, Juventus adalah tim yang belum pernah degradasi, sampai musim kompetisi 2005-06. Juve atau sering diujuluki si Nyonya Tua degradasi setelah terbukti terlibat skandal suap (calciopoli).

Tanpa Juventus, Inter Milan yang jadi musuh utama di Italia meraja lela. Jauh sebelum kompetisi berakhir, Inter Milan memastikan gelar juara atau disebut scudetto (artinye perisai). Kini Juve telah kembali. Return in style, kata beberapa media. Menang 5-1 di partai pembuka bukan masalah enteng. Apalagi setelah mejalani hukuman dan berbagai tragedi selama tahun 2006. Yang menarik, meski Juve adalah yang terbaik di Italia, tapi nasib kedua sering kontras. Waktu tim Kuda Zebra ini merajai Liga Italia dan Eropa, prestasi tim nasional Italia justru amburadul. Dua yang paling menyakitkan adalah kalah golden goal dari Perancis di final Piala Eropa 2000, dan dipermalukan tim kemarin sore Korea di Babak 16 Besar Piala Dunia 2002. Dua kejadian yang ditangisi jutaan tifosi.

Tapi ketika Juve jadi pesakitan, diawali dengan pengaturan skor dan permainan antara mafia, Italia justru berjaya. Ibarat raksasa bangkit dari tidurnya. Ingat, tidak ada yang menjagokan It05.jpgalia di Piala Dunia 2006. Tak seorang pun. Beberapa pengamat menempatkan Fabio Cannavaro dkk sebagai tim unggulan. Jadi juara? Ah, bener aja, bos. Tapi itulah yang terjadi. Italia juara. Banyak kejadian yang meragukan kualitas mereka. Siapa peduli. Sejarah cuma mencatat sang juara.

Juventus dan Italia boleh ibarat koin dengan dua sisi. Tapi faktanya, prestasinya keduanya justru berbeda. Kalau nanti Juve berprestasi lagi, tim Italia bisa saja terpuruk.Tunggu Piala Eropa 2008. Kalau Juventus juara Liga Italia, apakah tim Italia juga berprestasi di Eropa. Atau malah tidak lolos ke turnamen yang sering dijuluki Piala Dunia mini itu? (lagi…)